Daftar Isi : 

Isu material atap rumah sedang ramai dibicarakan setelah Presiden Prabowo Subianto mengajak masyarakat meninggalkan seng dan asbes, lalu beralih ke genteng, ijuk, atau rumbia.

Imbauan ini disampaikan saat peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, dengan alasan utama seng mudah berkarat dan asbes mengandung zat kimia berisiko bagi kesehatan paru-paru. Ajakan tersebut juga menjadi bagian dari gerakan “gentengisasi” dalam program Indonesia ASRI yang digagas pemerintah.

Wacana ini membuat banyak orang, khususnya yang sedang membangun atau membeli rumah, mulai bertanya: material atap rumah apa sebenarnya yang paling cocok dipakai, terutama untuk hunian modern hari ini?

Atap Rumbia dan Genteng Tanah Liat Bukan Tanpa Tantangan

Atap Rumbia dan Genteng Tanah Liat Bukan Tanpa Tantangan

Sekilas, kembali ke material tradisional seperti ijuk, rumbia, maupun genteng tanah liat terdengar seperti solusi paling alami. Namun dibalik gagasan gentengisasi, kedua jenis material ini sama-sama punya tantangan yang jarang dibahas.

Untuk atap ijuk dan rumbia, ketersediaan bahan baku dan tenaga pengrajin yang benar-benar memahami teknis pemasangan tradisional ini kian terbatas, sehingga sulit diproduksi dalam skala besar untuk kebutuhan perumahan modern.

Material ini juga membutuhkan perawatan berkala agar tidak mudah lapuk, lebih rentan terhadap risiko kebakaran dibanding material non-organik. Umumnya material atap rumah ini juga kurang cocok dipadukan dengan desain rumah minimalis atau modern yang mengutamakan efisiensi konstruksi.

Sementara itu, para produsen genteng mengungkapkan sejumlah kendala serupa. Bahan baku genteng tanah liat berasal dari tanah sawah, yang justru semakin sulit didapat karena pemerintah juga sedang mendorong swasembada pangan. Penggunaan tanah sawah secara besar-besaran berisiko menurunkan kualitas produksi padi.

Selain itu, proses pembuatan genteng tanah liat memakan waktu cukup lama, dan hasilnya sangat bergantung pada cuaca. Pada musim kemarau dengan suhu terik, genteng justru rawan pecah saat proses pengeringan.

Dengan kata lain, semangat untuk beralih dari seng dan asbes memang tepat, tapi solusinya belum tentu harus kembali seratus persen ke material lama. Di sinilah muncul kebutuhan akan material atap rumah alternatif yang tetap sehat, tapi realistis untuk produksi massal dan pembangunan hunian modern.

Atap Onduline, Alternatif yang Mulai Dilirik Developer

Material Atap Rumah Onduline, Alternative yang Dilirik Developer

Salah satu material yang mulai banyak diadopsi dalam proyek perumahan adalah atap onduline. Material ini terbuat dari serat selulosa daur ulang yang dikombinasikan dengan bitumen, lalu diproses dengan panas dan tekanan tinggi sehingga menghasilkan lembaran atap yang ringan namun kuat.

Beberapa keunggulan atap onduline yang membuat relevan untuk rumah masa kini:

  • Tahan Korosi: Tidak mengandung baja, metal, maupun asbes, sehingga bebas dari masalah karat yang jadi keluhan utama pada atap seng.
  • Tahan Cuaca Ekstrem: Mampu menahan terpaan angin kencang hingga guncangan gempa. Cocok untuk iklim tropis Indonesia yang rawan hujan deras dan angin kencang.
  • Peredam Panas dan Suara: Membuat suasana rumah lebih sejuk dan tidak berisik saat hujan turun.
  • Ringan dan Fleksibel: Mudah dipotong dan dibentuk sesuai kebutuhan desain atap.
  • Ramah Lingkungan dan Aman Bagi Kesehatan: Tidak mengandung serat berbahaya seperti pada asbes yang berisiko terhirup dan memicu gangguan paru-paru.

Meski begitu, atap onduline juga punya beberapa catatan yang perlu diperhatikan, seperti warnanya yang bisa memudar setelah lama terpapar matahari dan hujan. Serta, membutuhkan ketelitian saat pemasangan sambungan agar tidak rembes.

Material atap rumah ini juga lebih disarankan dipasang pada rangka baja ringan dibanding rangka kayu.

Sudah Dipakai di Sejumlah Perumahan

Sudah Dipakai di Sejumlah Perumahan

Karakter atap onduline yang sejuk, tahan lama, dan minim perawatan membuat material ini mulai jadi pilihan sejumlah pengembang perumahan di kawasan Jabodetabek. Diantaranya sudah digunakan di De Oasis Green Residence, Catania Premiere Cibubur, dan Valencia Premiere Cibubur.

Penggunaan atap ini di beberapa proyek hunian tersebut menunjukkan bahwa onduline bukan sekadar tren, tapi sudah teruji sebagai solusi atap yang bisa diterapkan pada pembangunan rumah skala besar. Tanpa mengorbankan kenyamanan maupun aspek kesehatan penghuni.

Yuk, Miliki Hunian dengan Material Atap Rumah Onduline!

Sudah tahu material atap rumah yang paling pas untuk hunian modern, sekarang saatnya wujudkan rumah impian Homies di Catania Premiere Cibubur, De Oasis Green Residence, atau Valencia Premiere Depok. Perumahan yang sudah menggunakan atap onduline untuk kenyamanan dan ketahanan jangka panjang.

Spesial bulan Agustus 2026, ada promo menarik buat Homies yang ingin beli rumah, yaitu booking fee mulai dari Rp1,7 juta atau dapat iPhone 17, cashback Rp17 juta, dan dapat water heater.

Promo ini berlaku sampai akhir Agustus 2026, dengan kuota terbatas hanya 5 unit di masing-masing proyek. Jangan sampai kehabisan!

Yuk, segera booking rumah impian Homies dengan menghubungi Minhome melalui website Sweethome atau Gethome.id, dan manfaatkan promo spesial Agustus sebelum berakhir!

Baca Selengkapnya: Beli Rumah KPR atau Tanah Kavling? Begini Cara Menentukannya!

Bagikan Postingan Ini